Kamis, 18 Juni 2009

Grebeg

UPACARA GEREBEG

Karaton Surakarta

Grebeg Mulud

Diselenggarakan pada tahun Dal (8 tahun sekali) Grebeg dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon, selanjutnya pada hari Ahad (minggu) Paing +/- 24 BBWI ISKS Pakoeboewono sekalian GK. Ratu Alit di Pawon atau dapur “Gondorasan:” untuk “adang” atau menanak nasi.

Grebeg Pasa

Tatacara yang dilaksanakan adalah Abdidalem “Pareden” atau gunungan 1 rakit atau 2 buah diarak menuju Masjid Ageng Karaton oleh para Abdidalem dan prajurit Karaton sebanyak 4 pleton. Selesai didoakan di masjid dibagi seperti Grebeg Mulud. 

Grebeg Besar

Tatacara yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1. Penyerahan kelengkapan “Jamasan Pusaka” atau minyak untuk membersihkan pusaka diterimakan kepada sesepuh Kadilangu (Ahli waris Sunan Kalijaga). Minyak diserahkan, yaitu lisah sepuh, lisah cendana dan kembang.

2. Dikeluarkannya ajad dalem “Pareden”atau gunungan pada +/- jam 10.00 WIB. Tatacara yang dilaksanakan adalah seperti pada Grebeg Pasa

Dari ketiga jenis Grebeg tersebut, Grebeg Muludlah yang prospeknya cerah dan banyak mengundang para pengunjung, oleh karena itu akan dibahas lebih lanjut sebagai berikut:

Setelah perayaan sekaten berlangsung 7 hari, maka tepat tanggal 12 Rabiulawal, yakni hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, diadakan upacara selamatan dengan sesaji “Gunungan” yang diselenggarakan oleh Sinuhun Paku Buwana. Puncak perayaan sekaten itu berbarengan dengan Grebeg Mulud Nabi, serta dipusatkan di Masjid Agung yang terletak di sebelah barat Alun-Alun utara.

Peresmian selamatan ini dimulai dengan pasewakan, Ingkang Sinuhun memerintahkan Pepatih Dalem untuk menyampaikan perintah kepada Kyai Penghulu Tapsiranom agar memimpin upacara selamatan Mulud Nabi Muhammad SAW serta membacakan doa seperlunya. Perjalanan rombongan pembawa sesaji “gunungan” dari Karaton serta didahuluioleh tarian. Ini dilakukan oleh para Brahmana dengan maksud untuk menguji kesungguhan iman Pepatih dalem di dalam mengemban perintah Ingkang Sinuhun. Kalau dalam menjalankan tugas tertawa itu tandanya masih bisa tergoda.

Tentang sesaji gunungan ini KGPH Hadiwijaya menjelaskan sebagai berikut: Gunungan (asal kata gunung) itu terdiri dari 24 jodang besar, yaitu 12 buah jodang gunungan laki-laki dan 12 buah jodang gunungan perempuan. Disela-sela itu terdapat anak-anak (saradan) dan 24 buah ancak-canthaka.

Gunung laki-laki yang berbentuk tumpengan , lingga atau meru itu tingginya melebihi tinggi ornag berdiri, dipundaknya ditaruh ento-ento (sejenis makanan yang bentuknya bulat) sebanyak 4 buah dan diatasnya 1 buah. Ini melambangkan rasa sejati, perlambang yang dapat kita saksikan pada tugu batu dari candi Sukuh (Sukuh, Tawangmangu) yang kini ditancapkan bendera kecil gula klapa (putih merah) yang dibalik, yang juga melambangkan laki-laki perempuan.

Gunungan bentuknya seperti tubuh gender ialah yoni. Oleh sebab itu dinamakan “gegenderan”. Segala sesuatu tidak berbeda dengan gunungan laki-laki di atas. Antara gunungan laki-laki tersebut terdapat anak-anakan yang dinamakan “saradan”

Jodhang yang dipergunakan untuk mengusung gunungan tersebut diberi hiasan yang mengandung makna tersendiri, serta mempunyai arti simbolis, antara laindiberi kampuh (penutup dari setengah tingginya ke bawah) berupa kain ‘bangotulak’ ynag indah, megah dan berwibawa itu.

Untuk keperluan sehari-hari pada sesaji/selamatan lazim kita jumpai jenang putih merah, tidak boleh keliru putihnya harus ditaruh di atas yang merah. Inipun melambangkan laki-laki perempuan, seperti yang terkandung dalam simbolgula – klapa yang dibalik, putihnya di atas merahnya di bawah. Tentang ancak-canthoka yang berjumlah 24 itu bentuknya menyerupai kodhok (katak), diberi wadah besi tertutup dari kuningan.

Dalam iring-iringan dari halaman Kamandungan menuju Masjid Besar, berjalan paling depan gunungan laki-laki berselang dengan gunungan perempuan, sedang diantaranya terdapat anak-anak (saradan). Di belakangnya adalah ancak-canthoka dalam formasi berjajar dua-dua. Perjalan diapit oleh abdidalem panewu mantri. Dibelakang sendiri berjalan seorang Bupati Pangreh Praja sebagai penutupnya.

Iring-iringan gunungan itu berjalan lewat di depan Ingkang Sinuhun di Sitinggil, lewat alun-alun utara dan seterusnya menuju masjid Besar. Perjalanan iring-iringan sesaji gunungan tersebut mendapat penghormatan gending Mungga. Sesampainya pada rombongan ancak-canthoka gending berubah menjadi kodhok ngorek.

Selanjutnya mengenai jum`lah (hitungan) 12-24-2 di atas masing-masing mempunyai arti sibolis sama dengan hitungan khusus 3 = trimurti, 4 = keblat, 2 = loro, loroning atunggal, dan sebagainya. Dikalangan ilmiah barat disebutnyatweedeling dan perkalianangka-angka di atas apabila berikutnya 12 x 2 – 24 adalah perputaran bumi mengelilingi matahari satu hari satu malam selama 24 jam.

Setelah rombongan sampai di serambi Masjid Besar maka Pepatih Dalem memberitahukan hajat Ingkang Sinuhun kepada Kyai Penghulu Tafsiranom serta minta dibacakan doa menurut semestinya. Kyai penghulu Tafsiranom menerima penyerahan itu selanjutnya memimpin jalannya upara sampai selesai. Kemudian sesudah upacara selesai, maka gunungan dan tumpeng sewu dibagikan kepada semua yang hadir, tidak ketinggalan dikirimkan kepada Ingkang Sinuhun dan para pembesar yang dianggap perlu.  

Calender Events

1. Garebeg Pasa Idul Fitri

Garebeg Pasa merayakan hari raya Idul Fitri yang menarik acara prosesi Gunungan (pareden - Jw) dari Karaton Surakarta diarak oleh para abdidalem ke Masjid Agung Surakarta. Seperti biasa setelah didoakan oleh Ngulamdalem (ulama karaton), kemudian dibagikan kepada masyarakat pengunjung. Acara ini dimulai pukul 10.00 tanggal, 6 Desember 2002 ( 1 Syawal 1423 H ) sampai selesai.

2. Syawalan

perayaan syawalan dimulai 1 hari setelah hari raya Idul Fitri. Diselenggarakan di taman Jurug yang terletak ditepi bengawan Solo. Puncak acara saat pelaksanaan " Larung Getek Joko Tingkir " ribuan orang menghadiri perayaan ini untuk memperoleh ketupat yang dibagikan. Berbagai pertunjukan tradisional diselenggarakan, seperti pertunjukan musik dangdut, keroncong dan seni tradisional lain. Juga ada tempat permainan anak-anak dan kebun binatang yang menarik. Syawalan dimulai tanggal, 17 Desember 2002.

3. Pasowanan Abdi dalem

Jadwal pasowanan abdidalem selama satu tahun, setiap abdidalem baik yang garap (pegawai karaton Surakarta) atau abdidalem anom-anom (tituler-umum, tidak bekerja di Karaton) yang telah memperoleh ganjaran pangkat mempunyai kewajiban-kewajiban umumnya sebagai abdidalem. Hal ini diperintahkan kepada semua abdidalem pada saat " di wisuda dan memperoleh surat kekancingan (SK) " dari Pangageng parentah Karaton untuk abdidalem dari umum dan memperoleh kekancingan dari kantor pangageng putra santanadalem untuk " para santanadalem ". Mereka diwajibkan " Netepi apa gawa-gawene Karaton " ini mengandung arti bahwa semua abdidalem tanpa terkecuali harus melaksanakan dawuh atau perintah untuk " sowan ke Karaton menghadiri pasowanan " . Pelaksanaannya melalui " timbalan atau panggilan " melalui surat.

Bagi abdi dalem yang berada diluar kota, ada toleransi tidak semua acara pasowanan tersebut harus datang, mengingat jauhnya tempat tinggal, waktu, tenaga dan biaya yang harus dikeluarkan. Dan untuk ini pihak Karaton sudah cukup bijaksana ada timbalan atau panggilan yang harus dihadiri abdidalem yang berada di kota Solo dan sekitarnya saja. Untuk melaksanakan dawuh pasowanan tersebut di dalam satu tahun terdapat kurang lebih 8 kali pasowanan sebagai berikut :

1. Pasowanan Kirab Pusaka, Diadakan setiap malam hari menjelang tanggal 1 Suro, Dimulai jam 10 malam,Tempat berkumpul di halaman Karaton, Acara kirab pusakadalem keliling Baluwarti, menempuh jarak kurang lebih 3 km dengan route yang dilalui, Karaton, Alun-alun Utara, Gladag, Jl. Mayor Kusmanto, Jl. Kapten Mulyadi, Jl. Veteran , Jl. Yos Sudarso, Jl Slamet Riyadi, Gladag kembali masuk ke Karaton. Busana yang dikenakan busana Jawi Jangkep sowan Karaton atelah hitam, tanpa passan (tanda pangkat) keris warongko ladrang.

2. Pasowanan Garebeg Mulud, Diadakan setiap tanggal 12 bulan Maulud bersamaan hajaddalem Gunungan, Dimulai jam 09.00 pagi, Tempat berkumpul dibangsal Smarakata dan di Pelataran (halaman dalam), Acara menuju ke kagungandalem Mesjid Agung Surakarta, untuk membawa hajjaddalem Gunungan, setelah didoakan kemudian dibagi kepada para pengunjung sisanya 1 (satu) buah dibawa kembali ke Karaton untuk dibagikan kepada para abdidalem. Busana yang dikenakan Jawi Jangkep sowan karaton, atelah hitam memakai passan (tanda pangkat) bagi yang berhak menggunakannya, keris warongko ladrang, diizinkan menggunakan " songsong " (payung) bagi yang punya.

3. Pasowanan Wilujengan Nagari ( Mahesa Lawung ), Diadakan setiap hari Senin atau Kamis, pada akhir bulan Rabiulakir, Dimulai jam 09.00 pagi, Tempat berkumpul di bangsal Smarakata. Acara menuju hutan Krendowahono, 15 km arah utara kota Solo, untuk mengadakan wilujengan nagari, dipimpin oleh nguladalem. Busana yang dikenakan busana Jawi Jangkep padintenan sowan Karaton, boleh pakai beskap atau atelah warna bebas bukan warna hitam. Keris warongko gayaman.

4. Pasowanan Peringatan Tingalandalem Jumenengan, Diadakan setiap tanggal 2 bulan Ruwah. Dimulai jam 10.00 pagi, Tempat berkumpul dibangsal Sasana Sewaka, Acara, duduk menghadap Sang Raja SISKS Paku Buwana XII lenggah (duduk) diatas dampar sambil menyaksikan " tari bedoyo ketawang " ditarikan oleh 9 gadis remaja putri yang belum menikah, terdiri para wayahdalem, santanadalem atau kerabatdalem lainnya bisa juga penari dari umum yang terpilih dan memenuhi syarat yang telah ditentukan. Busana yang dikenakan busana Jawi Jangkep sowan Karaton, atelah hitam keris warongko ladrang memakai passan bagi yang berhak menggunakannya.

Catatan :

Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, pada setiap tingalandalem jumenengan SISKS Paku Buwana XII, yang menganugerahkan ganjaran gelar atau pangkat kepada para santanadalem, abdidalem atau umum yang dipandang mempunyai jasa atau kepedulian terhadap Karaton. Pelaksanaan wisuda atau pemberian gelar atau pangkat tersebut, biasanya diadakan sehari sebelum peringatan tingalandalem jumenengan.

5. Malam Selikuran ( Selikur = 21 ), Diadakan setiap tanggal 20 malam menjelang tanggal 21 bulan puasa atau biasa disebut Malam lailatul Qodar. Dimulai jam 17.30 sore, Tempat berkumpul di Siti Hinggil Karaton Surakarta. Acara setelah mendengar adzan berbuka puasa, para abdidalem berbuka puasa bersama. Kemudian mengikuti " wilujengan hajad dalem selikuran " setelah didoakan bersama oleh para ngulamadalem dan badidalem, dibawa ke Joglo Taman Sriwedari untuk dibagikan kepada para pejabat dan tamu undangan yang hadir dan umum. Ditempat ini semua mendengarkan pembacaan riwayat berdirinya Taman Sriwedari atau zaman dulu biasa disebut Kebon Raja. Busana yang dikenakan busana Jawi Jangkep padintenan (harian) sowan karaton, bebas boleh atelah beskap, warna juga bebas asalkan bukan warna hitam, keris warongko gayaman.

6. Malam Garebeg Puasa, Diakan 1 hari menjelang hari raya Idul Fitri. Dimulai jam 17.30 sore, Tempat berkumpul dibangsal, Smarakata, Acara menyerahkan hajjaddalem Zakat Fitrah, kepada panitia kegungandalem Masjid Agung Surakarta, untuk dibagikan kepada mereka yang berhak, setelah terlebih dahulu di doakan oleh para seluruh yang hadir, melalui panitia mesjid, zakat diberikan kepada yang berhak. Busana yang dikenakan busana Jawi Jangkep pedintenan (harian) sowan karaton, bagi utusan dan petugas lainnya atelah atau beskap putih, keris warongko gayaman abdidalem lain bebas warnanya, asal bukan warna hitam.

7. Garebeg Puasa, Diadakan pada hari raya Idul Fitri 1 Syawal setelah melakukan shalt ied. Dimulai jam 09.00 pagi, Tempat berkumpul di bangsal Smarakata dan di pelataran, Acara, menyerahkan hajjaddalem Gunungan (pareden-Jw) ke kagungandalem Mesjid Agung Surakarta. Setelah didoakan oleh ngulamadalem, gunungan dibagikan kepada para pengunjung sisanya 1 (satu) buah dibawa kembali ke Karaton untuk dibagi kepada para abdidalem. Busana yang dikenakan busana Jawi Jangkep sowan Karaton, atelah hitam memakai passan (pangkat) bagi yang berhak , keris warongko ladrang, bagi yang sudah punya diizinkan memakai songsong (payung)

8. Garebeg Besar, Diadakan pada tanggal 10 Besar setelah melakukan sholat ied, Dimulai jam 09.00 pagi, Tempat berkumpul dibangsal Smarakata dan dipelataran, Acara menyerahkan hajjaddalem Gunungan (pereden - Jw) ke kagungandalem Mesjid Agung Surakarta. Setelah didoakan oleh ngulamdalem gunungan dibagikan kepada para pengunjung, sisanya 1 (satu) buah dibawa kembali ke Karaton untuk dibagikan kepada para abdidalem. Busana yang dikenakan busana Jawi Jangkep sowan karaton, atelah hitam memakai passan (pangkat) bagi yang berhak , keris warongko ladrang bagi yang sudah punya diizinkan memakai songsong atau payung.

9. Garebeg Besar ( Idul Adha ),  prosesi hajjad dalem gunungan dari karaton menuju ke masjid agung Solo tepat jam 10.00 pagi. Kemudian setelah didoakan oleh ngulamadalem (ulama dari karaton) gunungan tersebut dibagikan kepada para masyarakat pengunjung dan sisanya sebuah dibawa kembali ke karaton untuk dibagikan kepada para abdidalem.

10. Kirab Pusaka, kirab pusaka merupakan cara tradisional yang diselenggarakan oleh Karaton Surakarta dan Pura mangkunegeran, untuk merayakan tahun baru jawa yakni 1 Asyura (suro). Prosesi ini memamerkan pusaka-pusaka dari karaton Surakarta dan Pura Mangkunegeran yang dibawa oleh para abdidalem yang berpakaian Jawa adat karaton (busana jawi jangkep), Acara ini dimulai jam 10.00 malem ,dan bersamaan waktunya para abdidalem karaton Surakarta mengirabkan pusaka-pusaka, para abdidalem yang lain, mengadakan semedi di bangsal Parasdya serta sholat khajat di mesjid Pujasana yang terletak di dalam karaton. Kedua acara ini untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan SISKS Paku Buwana XII dan seluruh kerabat serta karaton Surakarta seluruhnya, serta keselamatan negara kesatuan republik Indonesia.

0 komentar:

  © Blogger templates Brooklyn by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP